HEADLINE
0
Operasional PT.SOL Disorot,BITRA Ungkap Krisis Air dan Parameter Pencemaran di Silangkitang
TAPANULI UTARA|Sumut.suarana.com
Krisis air menjadi salah satu temuan utama Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) BITRA Indonesia dalam kajiannya terhadap kondisi masyarakat Desa Silangkitang, Kecamatan Pahae Julu, Kabupaten Tapanuli Utara.Temuan tersebut dituangkan dalam buku berjudul “Transformasi Ruang dan Hak: Refleksi Sosial Eksplorasi Panas Bumi PT. Sarulla Operations Ltd (SOL)”.
Kajian BITRA membandingkan kondisi masyarakat sebelum dan sesudah operasional geotermal, terutama menyangkut ketersediaan air, kualitas air, irigasi dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.
Dalam analisisnya, BITRA menilai persoalan air di Silangkitang bukan hanya menyangkut berkurangnya debit mata air, tetapi juga adanya indikasi perubahan kualitas air berdasarkan sejumlah parameter pencemaran yang mereka dokumentasikan.
Debit Tiga Mata Air Disebut Menurun
Dalam kondisi sebelum operasional geotermal, BITRA mencatat pasokan air masyarakat berasal dari tiga titik mata air utama yang disebut jernih dan berlimpah sepanjang tahun.
Debit irigasi Sungai Aek Hapesong dan parit desa juga disebut mengalir stabil.
Namun, berdasarkan kajian BITRA, setelah operasional geotermal terjadi penurunan debit secara drastis pada tiga titik mata air utama. Bahkan, parit utama dan aliran Aek Hapesong disebut mengering ketika memasuki musim kemarau singkat.Kondisi tersebut kemudian berdampak pada kebutuhan air rumah tangga dan pertanian masyarakat.
Parameter Pencemaran Air Jadi Temuan Penting
Tidak hanya kuantitas air, BITRA juga melakukan analisis terhadap parameter kualitas air di sejumlah titik pemantauan Sungai Banuaji.
Dalam dokumen yang dituangkan dalam buku tersebut, beberapa parameter disebut menunjukkan angka yang melampaui baku mutu atau ambang batas yang digunakan sebagai pembanding.
Pertama, parameter logam berat.
Untuk Timbal (Pb), kajian mencatat adanya lonjakan hingga 0,0625 mg/L pada titik BN-02, sementara angka baku mutu yang dicantumkan adalah 0,03 mg/L.
Untuk Mangan (Mn), konsentrasinya disebut mencapai 0,8523 mg/L pada BN-03, melampaui standar baku mutu 0,1 mg/L.
Sementara Besi (Fe) disebut mencapai 0,6462 mg/L pada BN-01, dibandingkan standar baku mutu 0,3 mg/L.
BITRA juga mencatat peningkatan Seng (Zn) hingga 0,1022 mg/L pada BN-03, yang disebut melampaui batas baku mutu dalam kajian.
Senyawa Belerang Juga Disoroti
Parameter berikutnya adalah senyawa belerang.
Kajian BITRA mencatat Ion Sulfat mencapai 543,2 mg/L pada BN-03, sementara standar baku mutu yang dicantumkan sebesar 300 mg/L.
Sedangkan Hidrogen Sulfida (H₂S) disebut mencapai 0,0673 mg/L pada BN-02, jauh di atas ambang batas 0,002 mg/L yang dicantumkan dalam kajian.
Menurut analisis BITRA, tingginya senyawa sulfur tersebut berkaitan dengan persoalan kualitas air dan munculnya bau belerang menyengat, terutama dalam kondisi tertentu seperti setelah hujan maupun aktivitas well washing.
Nitrat dan Kontaminasi Mikrobiologi
Parameter pencemaran yang juga menjadi sorotan adalah nutrien dan mikrobiologi.Dalam kajian tersebut, kadar Nitrat disebut mencapai 183,00 mg/L, sedangkan ambang baku mutu yang dicantumkan sebesar 10 mg/L.
Total Nitrogen juga tercatat mencapai 183,6 mg/L.
Sementara dari aspek mikrobiologi, kajian mencatat:
Total Coliform: 2.300 MPN/100 mL
Faecal coli: 780 MPN/100 mL
BITRA menilai temuan tersebut menunjukkan adanya indikasi pencemaran bahan organik dan kontaminasi mikrobiologis yang perlu mendapat perhatian serius, terutama karena air berkaitan langsung dengan kebutuhan domestik masyarakat.
Indeks Pencemaran Mencapai 4,53–6,20
Dari sejumlah parameter yang dianalisis, BITRA kemudian menghitung Indeks Pencemaran (IP) terhadap kualitas air Sungai Banuaji.
Hasil yang dicantumkan dalam kajian menunjukkan nilai IP berada pada kisaran 4,53 hingga 6,20, yang dikategorikan dalam dokumen tersebut sebagai cemar sedang hingga cemar ringan.
Angka ini menjadi salah satu dasar analisis BITRA dalam menyatakan bahwa persoalan kualitas air di kawasan hulu perlu mendapat perhatian lebih serius.
Krisis Air Mengancam Pertanian
Persoalan tersebut kemudian berkelindan dengan kondisi pertanian masyarakat.
BITRA mencatat sekitar 90 hektare persawahan produktif, dengan sekitar 50 hektare berada di Dusun 1, 2 dan 3.
Dalam kajian tersebut disebutkan bahwa kombinasi persoalan irigasi dan anomali iklim pada 2025 berkontribusi terhadap gagal panen hingga 80 persen pada tanaman padi.Krisis air membuat sebagian petani disebut terpaksa mengalihkan tanaman padi menjadi jagung hibrida yang lebih tahan terhadap kondisi kering.Dengan demikian, persoalan air dinilai telah berkembang dari persoalan lingkungan menjadi persoalan ekonomi petani dan ketahanan pangan masyarakat.
Warga Harus Mencari Air Lebih Jauh
Keterbatasan air juga disebut meningkatkan beban masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.Dalam kajian BITRA dicantumkan kesaksian warga Hosiana Sitompul (44 tahun) yang disebut harus membawa jeriken sekitar 10 liter menuju mata air Simena Henak sebanyak dua kali seminggu.Warga juga disebut membangun jaringan selang secara swadaya hingga sekitar 150 meter untuk memperoleh air.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa akses terhadap air yang sebelumnya relatif mudah diperoleh kini disebut membutuhkan tenaga, waktu dan biaya tambahan.
65 Persen Warga Keluhkan Kualitas Air
BITRA juga mencatat sekitar 65 persen warga mengeluhkan degradasi kualitas air.Air disebut berubah menjadi keruh kekuningan, berminyak dan berbau belerang, terutama saat hujan maupun ketika aktivitas well washing berlangsung.Jika temuan tersebut terbukti melalui pengujian independen, maka persoalan yang dihadapi masyarakat bukan hanya krisis kuantitas air, tetapi juga krisis kualitas air.
BITRA Soroti Hak Dasar Masyarakat
Melalui buku Transformasi Ruang dan Hak, BITRA menempatkan persoalan tersebut dalam perspektif hak dasar masyarakat atas air bersih, sanitasi, kesehatan, pertanian dan lingkungan hidup yang sehat.
Krisis air juga disebut telah memengaruhi tata kelola sosial. Ketika debit irigasi semakin terbatas, distribusi air yang sebelumnya dikelola secara komunal melalui gotong royong disebut mulai memunculkan gesekan antar warga.Air yang sebelumnya menjadi sumber kehidupan dan dikelola secara bersama, dalam kondisi terbatas dapat berubah menjadi sumber persoalan sosial.
Perlu Verifikasi Independen
Temuan BITRA mengenai parameter pencemaran tersebut merupakan hasil kajian dan analisis yang dituangkan dalam buku mereka. Karena menyangkut isu lingkungan dan dugaan dampak operasional geotermal, seluruh angka tersebut penting untuk diverifikasi melalui pengujian laboratorium dan kajian hidrologi independen.
Pemerintah dan pihak terkait juga perlu menjelaskan kondisi terkini tiga mata air utama, Sungai Aek Hapesong dan Sungai Banuaji, termasuk apakah terjadi perubahan debit dan kualitas air, apa penyebabnya, serta langkah pemulihan yang dilakukan.
Sebab persoalan paling mendasar yang diungkap dalam kajian BITRA bukan semata-mata soal ada atau tidaknya pencemaran, melainkan apakah masyarakat Silangkitang masih dapat memperoleh air yang cukup, aman dan layak untuk minum, sanitasi serta mengairi sawah mereka.
BOBLUIS
Via
HEADLINE
