SEJARAH
0
29 Tahun Diburu Belanda, Sisingamangaraja XII Gugur Saat Berusaha Menyelamatkan Putrinya
TAPANULI UTARA|Sumut.suarana.com
Sejarah perjuangan bangsa Indonesia mencatat nama Sisingamangaraja XII sebagai salah satu pemimpin perlawanan paling gigih menghadapi kolonialisme Belanda. Selama hampir 29 tahun, Raja Batak itu bertahan di tengah hutan, lembah, dan pegunungan Tapanuli, memimpin perang gerilya yang membuat pasukan kolonial kewalahan.
Perjuangan panjang tersebut berakhir pada pagi 17 Juni 1907 di kawasan hutan Dairi, Sumatera Utara.
Malam sebelumnya, 16 Juni 1907, pasukan khusus Belanda yang dipimpin Kapten Hans Christoffel berhasil melacak persembunyian Sisingamangaraja XII. Pasukan elite yang dikenal sebagai Kolone Matjan mengepung lokasi dari berbagai arah dengan tujuan menangkap hidup atau mati pemimpin perlawanan Batak tersebut.
Fajar menyingsing, baku tembak pun pecah. Meski jumlah pasukannya semakin sedikit dan persenjataan jauh tertinggal dibanding tentara kolonial, Sisingamangaraja XII tetap memilih bertempur. Menyerah bukanlah pilihan.
Di tengah pertempuran, menurut sejumlah catatan sejarah, terdengar teriakan putrinya, Lopian, yang terluka akibat tembakan musuh. Tanpa menghiraukan keselamatannya sendiri, sang raja keluar dari perlindungan untuk menghampiri putrinya.
Saat itulah seorang penembak dari pasukan Belanda melepaskan tembakan yang mengenai kepala Sisingamangaraja XII. Sang Raja Batak gugur di medan perang. Bersamanya, putrinya Lopian serta kedua putranya, Patuan Nagari dan Patuan Anggi, juga gugur mempertahankan kehormatan tanah leluhur.Peristiwa tersebut sekaligus mengakhiri Perang Batak yang telah berlangsung sejak tahun 1878.
Sisingamangaraja XII lahir di Bakkara pada 18 Februari 1849 dengan nama Patuan Bosar Ompu Pulo Batu. Ia berasal dari Dinasti Sinambela, garis keturunan para Sisingamangaraja yang selama berabad-abad dihormati sebagai pemimpin adat, pemimpin spiritual, sekaligus pemimpin politik masyarakat Batak.
Pada usia 27 tahun, ia diangkat menjadi Sisingamangaraja XII menggantikan ayahnya, Sisingamangaraja XI. Tidak lama kemudian, ekspansi kolonial Belanda ke Tanah Batak semakin meluas, disertai penguatan kekuatan militer dan aktivitas zending.
Melihat ancaman terhadap kedaulatan wilayah dan kehidupan masyarakat Batak, Sisingamangaraja XII menyerukan persatuan seluruh marga untuk melawan penjajahan. Seruan itu menjadi awal pecahnya Perang Batak pada tahun 1878.
Selama hampir tiga dekade berikutnya, ia memimpin perang gerilya dengan memanfaatkan hutan lebat, jurang, sungai, dan pegunungan di kawasan Tapanuli. Strategi bergerak cepat, menyerang secara tiba-tiba, lalu berpindah tempat membuat Belanda berkali-kali gagal menangkapnya.
Berbagai operasi militer besar dilancarkan pemerintah kolonial. Namun setiap kali Belanda merasa telah mengepungnya, Sisingamangaraja XII selalu berhasil lolos dan kembali menyusun perlawanan bersama para pengikutnya.
Baru pada tahun 1907, setelah pengejaran panjang dengan melibatkan jaringan informan dan pasukan khusus Kolone Matjan, Belanda berhasil menemukan lokasi persembunyiannya di wilayah Dairi.
Meski gugur di medan perang, semangat perjuangan Sisingamangaraja XII tidak pernah padam.
Setelah wafat pada 17 Juni 1907, jenazahnya dimakamkan oleh pemerintah kolonial Belanda di Tarutung, tepatnya di kawasan Silindung. Selama puluhan tahun, makam tersebut menjadi tempat masyarakat memberikan penghormatan kepada Raja Batak yang mempertahankan tanah leluhurnya hingga akhir hayat.
Pada 14 Juni 1953, atas prakarsa pemerintah, keluarga, dan tokoh masyarakat Batak, jenazah Sisingamangaraja XII dipindahkan ke Kompleks Makam Pahlawan Nasional Soposurung, Balige, Kabupaten Toba. Pemindahan tersebut merupakan bentuk penghormatan atas jasa-jasanya sebagai pemimpin perjuangan rakyat Batak melawan kolonialisme Belanda.
Atas pengabdian dan perjuangannya, Pemerintah Republik Indonesia menetapkan Sisingamangaraja XII sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 590 Tahun 1961 pada 9 November 1961.
Namanya kini diabadikan sebagai nama jalan di berbagai kota di Indonesia serta menjadi nama Bandara Internasional Sisingamangaraja XII di Silangit, Kabupaten Tapanuli Utara.
Setiap tanggal 17 Juni, masyarakat Batak di berbagai penjuru dunia mengenang gugurnya Sisingamangaraja XII. Sosoknya dikenang bukan hanya sebagai pemimpin Perang Batak, tetapi juga sebagai simbol keberanian, pengorbanan, persatuan, dan kecintaan terhadap tanah air. Perjuangannya selama hampir tiga dekade menjadi warisan sejarah yang terus menginspirasi generasi penerus untuk menjaga jati diri, persatuan, dan kedaulatan bangsa Indonesia.
(Dikutip dari berbagai sumber)
BOBLUIS
Via
SEJARAH
